MEDAN — Banyak orang tua berharap si kecil dapat segera berjalan. Tak sedikit pula yang menganggap penggunaan baby walker atau kebiasaan sering menggendong bayi dapat membantu mempercepat kemampuan tersebut. Padahal, anggapan ini tidak sepenuhnya benar.
Dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang, Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K), menjelaskan bahwa anak membutuhkan kesempatan untuk bergerak secara mandiri agar perkembangan motorik kasarnya berlangsung optimal. Hal tersebut ia sampaikan dalam podcast bersama Nikita Willy.
Menurut Prof. Rini, bayi yang terlalu sering digendong atau lebih banyak menghabiskan waktu di alat bantu seperti baby walker justru kehilangan kesempatan untuk melatih otot dan keseimbangan tubuhnya.
“Anak perlu melalui setiap tahapan perkembangan secara bertahap. Mulai dari berguling, duduk, merangkak, berdiri sambil berpegangan, merambat, hingga akhirnya berjalan sendiri,” jelasnya.
Kesempatan Bergerak Sangat Penting
Memasuki usia sekitar enam bulan, sebagian besar bayi mulai mampu duduk dengan bantuan atau bahkan sudah dapat duduk sendiri. Pada fase ini, orang tua dianjurkan memberikan kesempatan lebih banyak kepada anak untuk bermain di lantai dengan pengawasan.
Bermain di lantai bukan sekadar aktivitas bermain. Momen tersebut menjadi bagian penting dari proses belajar anak mengenali tubuhnya, memperkuat otot inti, melatih koordinasi gerak, serta membangun keseimbangan yang nantinya dibutuhkan saat berjalan.
Semakin sering anak diberi ruang untuk mengeksplorasi gerakannya, semakin banyak pengalaman motorik yang diperoleh. Pengalaman inilah yang menjadi fondasi penting sebelum anak mampu melangkahkan kaki secara mandiri.
Mengapa Baby Walker Tidak Dianjurkan?
Masih banyak orang tua yang percaya bahwa baby walker dapat mempercepat kemampuan berjalan. Faktanya, alat ini tidak mengajarkan pola berjalan yang alami.
Saat berada di dalam baby walker, bayi berpindah tempat karena bantuan roda. Ia tidak benar-benar belajar menopang berat badan, menjaga keseimbangan, ataupun mengangkat kaki sebagaimana proses berjalan yang sebenarnya.
Akibatnya, anak memang terlihat dapat bergerak ke berbagai arah, tetapi bukan karena kemampuan berjalan yang sedang berkembang, melainkan karena alat tersebut yang membantunya berpindah tempat.
Selain itu, penggunaan baby walker juga memiliki risiko cedera. Anak dapat bergerak lebih cepat dari kemampuan kontrol tubuhnya sehingga berpotensi mengalami kecelakaan, seperti terjatuh dari tangga atau menabrak benda di sekitarnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tidak menganjurkan penggunaan baby walker sebagai sarana belajar berjalan karena tidak terbukti mempercepat perkembangan motorik dan justru dapat meningkatkan risiko cedera.
Setiap Anak Memiliki Waktu yang Berbeda
Perlu dipahami bahwa kemampuan berjalan bukanlah perlombaan. Ada anak yang mulai berjalan pada usia sekitar 10 bulan, sementara anak lain baru berjalan pada usia 15 hingga 18 bulan. Selama perkembangan motoriknya terus menunjukkan kemajuan dan sesuai dengan tahapan usianya, kondisi tersebut umumnya masih termasuk normal.
Hal terpenting yang dapat dilakukan orang tua adalah menyediakan lingkungan yang aman, memberikan kesempatan anak untuk aktif bergerak, serta mendampingi setiap proses tumbuh kembangnya tanpa terburu-buru.
Dengan stimulasi yang tepat, anak akan belajar melalui setiap tahap perkembangan secara alami. Dari berguling, duduk, merangkak, berdiri, merambat, hingga akhirnya berjalan sendiri dengan rasa percaya diri.
Sumber:
- Podcast Nikita Willy bersama Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K).
- Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Menjelajah Sebelum Berjalan.
- ANTARA News. Pernyataan Prof. Dr. dr. Rini Sekartini mengenai perkembangan berjalan pada anak dan penggunaan baby walker.
