Tantrum adalah hal yang wajar terjadi pada anak, terutama di usia 18 bulan hingga 5 tahun. Pada masa ini, kemampuan anak untuk mengatur emosi masih berkembang. Akibatnya, saat merasa kecewa, lelah, atau keinginannya tidak terpenuhi, anak bisa meluapkan emosinya dengan cara menangis, berteriak, atau bahkan melempar barang.
Menariknya, sebuah penelitian dari University of Wisconsin yang menganalisis 335 kejadian tantrum pada anak usia 18 bulan–5 tahun menemukan bahwa tantrum umumnya terdiri dari dua fase emosi, yaitu amarah dan kesedihan. Memahami kedua fase ini dapat membantu orang tua merespons dengan lebih tepat.
1. Fase Amarah 😠
Fase ini biasanya muncul di awal tantrum.
Tanda-tandanya:
- Menendang
- Memukul
- Membanting barang
- Berteriak
- Menghentakkan kaki
Pada tahap ini, anak masih berharap keinginannya akan terpenuhi. Karena itu, ia terus menunjukkan penolakan atau kemarahannya.
Apa yang sebaiknya dilakukan?
- Pastikan lingkungan tetap aman dengan menjauhkan benda yang mudah pecah atau berbahaya.
- Tetap berada di dekat anak untuk mengawasinya.
- Hindari memeluk atau menahan tubuhnya jika tidak diperlukan, karena bisa membuat anak semakin marah.
- Jangan terburu-buru memberi nasihat atau membujuk. Di fase ini, anak biasanya belum mampu menerima penjelasan.
2. Fase Kesedihan 😢
Setelah kemarahannya mulai mereda, anak biasanya masuk ke fase kesedihan.
Tanda-tandanya:
- Menangis
- Merengek
- Mencari pelukan atau kontak fisik
- Ingin merasa aman dan ditemani
Pada tahap ini, anak mulai menyadari bahwa keinginannya tidak dapat terpenuhi. Tubuhnya sedang memproses emosi dan stres hingga perlahan kembali tenang.
Apa yang sebaiknya dilakukan?
- Sejajarkan posisi tubuh Anda dengan tinggi mata anak.
- Buka tangan dan biarkan anak yang memilih untuk mendekat.
- Ucapkan beberapa kalimat yang lembut dan menenangkan, seperti:
- “Mama di sini.”
- “Tidak apa-apa, kamu sedang sedih.”
- “Kalau sudah siap, kita peluk ya.”
- Tetap temani anak sampai ia benar-benar tenang.
Ingat, Tujuan Kita Bukan Menghentikan Tangisan Secepat Mungkin
Saat anak tantrum, fokus utama bukan membuatnya langsung diam. Yang lebih penting adalah membantu anak merasa aman saat menghadapi emosinya.
Ketika orang tua merespons dengan tenang, konsisten, dan penuh empati, anak akan belajar bahwa emosinya dapat diterima dan dikelola dengan baik. Seiring waktu, kemampuan regulasi emosinya akan berkembang.
Tantrum bukan tanda anak nakal atau orang tua gagal mendidik. Tantrum adalah bagian dari proses tumbuh kembang anak dalam belajar mengenali dan mengendalikan emosinya.
Sumber: Potegal et al. (2003). Journal of Developmental & Behavioral Pediatrics. & Tentang Anak.
